Kamis, 30 Juni 2011

KBK : solusi alternatif , sebuah harapan

Telah banyak yang menyorot bahwa pendidikan di Indonesia berada dalam posisi yang carut marut; tanpa arah yang jelas; tanpa sistem yang berpihak pada kepentingan siswa sebagai objek pembelajaran, dan yang paling memprihatinkan adalah saratnya kepentingan yang mewarnai sistem pendidikan kita, sehingga berdampak terbawanya kualitas pendidikan di Indonesia pada pada satu titik yang sangat memprihatinkan, karena berdasar Human Development Index (HDI), Indonesia berada satu lapis di bawah Vietnam, yaitu ranking 102 dari 106 negara yang disurvai. Dan the Political Economic Risk Consultation (PERC) juga melaporkan hasil surveinya bahwa Inodesia berada di peringkat ke-12 dari 12 negara yang disurvei, juga satu peringkat di bawah Vietnam. Sedemikian parahkah system pendidikan di Indonesia?

Fakta rendahnya kualitas pendidikan kita bukan karena kurang tersedianya cerdik pandai di negara kita, melainkan karena keberadaan mereka terkotak pada kepentingan-kepentingan porto polio versi masing-masing tanpa ada yang mempertautkan kepakarannya pada suatu wadah nasional; --di samping tentu saja salah satu alasannya karena anggaran belanja negara di bidang pendidikan yang masih sangat menyulitkan bagi pelaku pendidikan untuk membelanjakannya.

Fakta-fakta di atas telah sangat sering diwacanakan dalam forum-forum ilmiah, oleh para pakar-pakar pendidikan yang loyalitas dan dedikasi serta kompetensi keilmuannya sudah tidak diragukan lagi, sehingga potret carut marutnya wajah pendidikan Indonesia sudah menjadi rahasia umum. Bukan suatu hal yang harus diperdebatkan, melainkan karena berangkat dari fakta-fakta yang ada maka bagaimanapun keterpurukan kualitas pendidikan di Indonesia harus segera diatasi. Terlebih lagi kalau melihat ke depan, pada tahun 2003 akan mulai diberlakukan Asean Free Trade Area (AFTA) dan Asean Free Labour Area (AFLA), dimana membanjirnya tenaga ahli dari negara lain tidak akan bisa dibendung lagi. Akan seperti apa nasib dari kebanyakan tenaga kerja Indonesia, bila tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja asing?

Satu hal yang kasat mata tentang nilai kurang dari hasil pendidikan Indonesia pada konteks makro adalah masalah bahasa. Lemahnya kemampuan berbahasa asing bagi kebanyakan tenaga kerja Indonesia merupakan kekalahan dini dalam persaingan memperebutkan kursi formasi kerja, banyak yang gugur sebelum berperang beradu ketrampilan. Mengatasi satu kendala kemampuan berbahasa asing bagi tenaga kerja Indonesia, sebetulnya juga harus berangkat dari sistem pendidikan nasional-- yang dalam kurikulum-- target materi pembelajaran bahasa asingnya di sekolah hanya menekankan pada pengetahuan bahasa, bukan ketrampilan berbahasa. Sehingga dengan demikian untuk mengatasi kendala kelemahan berbahasa, langkah bersama dari Depdiknas dalam merancang penerapan kurikulum berbasis kompetensi dengan pihak pererbit buku pegangan siswa di sekolah sangat menentukan arah pembelajaran di sekolah, yang pada akhirnya melibatkan para guru sebagai agen transfer of knowledge. Sekalipun banyak lembaga bahasa asing yang diselenggarakan oleh masyarakat menawarkan jasa ketrampilan berbahasa asing, kesadaran masyarakat akan kemampuan berbahasa masih terlalu minim. Kalau kita mencoba untuk menganut paham minimalis, nampaknya kemampuan berbahasa asing belum sepenuhnya menjamin untuk bisa memenangkan persaingan global. Bahasa sebagai media untuk berkomunikasi adalah pelengkap dari kompetensi kecakapan hidup, semisal kemampuan di bidang medis, teknik informatika, teknik mesin, bangunan, pertambangan dan lain-lain.

Sebagai langkah nyata untuk mengantisipasi mulai diberlakukannya AFTA dan AFLA pada tahun 2003, maka sistem pendidikan Indonesia--yang lebih cenderung menitikberatkan pada tujuan ranah kognitif (pengetahuan), secara sistemik proporsional akan digeser pada pencapain bukan saja tujuan ranah kognitif tetapi juga tujuan ranah psikomotorik (ketrampilan) dan ranah afektif (sikap, batin). Kurikulum 94 dan suplemen nya yang selama ini dipakai sebagai "buku suci" pedoman pelaksanaan pendidikan Indonesia, terlalu sarat dengan muatan kognitif akademis-yang andaikata dipraktekkan dalam kehidupan nyata, pengetahuan yang didapatkan lewat bangku sekolah tersebut belum mampu terendap sebagai modal untuk hidup, sebab kurikulum tersebut kurang mampu memberikan ruang gerak bagi siswa untuk mengekplorasi potensi diri, dan para guru tidak memiliki kesempatan untuk menginventarisir potensi siswa dari aspek non kognitif. Semuanya berjalan secara mekanis dimana para guru yang bertindak sebagai subjek ajar dan siswa sebagai objek ajar terjebak pada mekanisme rutinitas yang formalistis.

Sebagai satu usaha untuk keluar dari deretan kelemahan atas kurikulum 94 dan suplemennya, Depdiknas telah mempersiapkan formula pendidikan yang lebih berorientasi pada pemberdayaan sekolah-sebagai subjek ajar-dengan program MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan titik fokus pada Life Skill Education (Pendidikan Kecakapan Hidup), sebagai langkah untuk mengembalikan prinsip dasar pendidikan yang berupaya "untuk memanusiakan manusia" agar para warga belajar -sebagai objek ajar-mampu mengembangkan potensi dasar untuk menghadapi kehidupan nyata dengan bekal kecakapan hidup.

KBK sebagai program baru dari Depdiknas, untuk diharuskan bisa dilaksanakan pada sekolah negeri mulai tahun ajaran 2003/2004 terasa sangat pendek. Hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya guru (dan atau sekolah) yang belum sepenuhnya paham akan arah dan esensi dari KBK. Memang pemerintah -dalam hal ini Depdiknas telah banyak melakukan sosialisasi tentang KBK, namun keterkagetan para guru belum sepenuhnya hilang atas program baru ini. Bahkan tidak jarang terdengar ungkapan sinis yang mengatakan "ganti mentri ganti kebijakan".

Bagaimanapun roda telah berputar, KBK harus berjalan. Bukan berarti tanpa alasan KBK ini dimunculkan. Depdiknas tentu saja telah secara cermat mengevaluasi kurikulum yang selama ini dijadikan pedoman pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Asumsi-asumsi dan premis yang dipakai Depdiknas untuk mengganti kurikulum 94 dengan KBK adalah fakta atas kualitas output pendidikan di Indonesia yang masih rendah, sementara perdagangan bebas tanpa batas -yang berimplikasi pada adanya kecenderungan kalahnya tenaga kerja Indonesia dalam bersaing dengan tenaga kerja asing -akan tak terelakkan.

KBK yang sudah masuk pada tahapan policy intstruktif dari Mendiknas ini, yang pada tahun ajaran 2003/2004 harus dilaksanakan di sekolah-sekolah negeri, dan pada tahun ajaran 2004/2005 akan menjadi sebuah Kepmen (Keputusan Mentri) untuk dilaksanakan di seluruh sekolah, baik sekolah negeri maupun swasta. Majelis DIKTILITBANG telah menawarkan 8 (delapan) materi kompetensi dalam KBK yang meliputi; seni, olah raga, bahasa Asing, ketrampilan, teknologi informatika, lingkungan hidup, ilmu-ilmu dasar dan kepribadian (dan mungkin ditambah dengan materi Entrepreneurship}. Menanggapi hal ini maka setiap sekolah bisa memilih bidang kompetensi yang diterapkan sesuai dengan kesiapan infrastruktur sekolah masing-masing. Pada tahapan implimentatif, pelaksanaan KBK bisa merupakan keputusan akomodatif dengan mendasarkan alternatif kompetensi atas usulan sekolah, namun sangat besar kemungkinan keputusannya bersifat instruktif, dengan poin materi yang harus diberlakukan. KBK sebagai satu alternatif kurikulum "terbaik" yang harus segera diberlakukan maka sekolah dituntut selalu adaptif terhadap segala masukan yang menambah nilai pelaksanaan KBK. Masyarakat sebagai salah satu unsur stake holder sangat berharap bahwa KBK ini akan menjadi kebijakan yang memiliki daya dorong dan daya ungkit atas munculnya potensi-potensi manusiawi setiap diri siswa, yang akhirnya para siswa memiliki kompetensi berupa kecakapan hidup, hidup dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sangat tidak diharapkan bahwa KBK ini hanya sekedar kebijakan populis, yang hanya mengulang kesalahan kurikulum sebelumnya.


(Drs. Zaenal Arifin, Kepala Bidang Pengajaran Primagama, dan Pengurus FP2 PG ; alumnus Sastra Inggris UNS.)

Selasa, 04 Mei 2010

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
SIMULASI
Mata Pelajaran Biologi Kelas VIII SLTP


Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Strategi Pembelajaran
Yang dibina oleh Bapak Drs. H. Zainul Abidin M.Pd


Oleh
Moh. Saifudin Zuhri
108121409920

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
SIMULASI

I. Identitas
- Mata pelajaran : Biologi
- Pokok materi : Organ-Organ Pencernaan
- Kelas/sekolah : VIII SMP
- Semester : 1 (satu)
- Jam/waktu : 1 x 35 menit
- Pertemuan : 1

II. Tujuan
- Standard Kompetensi:
Memahami berbagai organ pencernaan dan sistem pecernaan dalam kehidupan manusia.
- Kompetensi Dasar:
Mendeskripsikan organ pencernaan dan sistem pencernaan pada manusia.
- Indikator
Siswa dapat :
1) Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia.
2) Mendeskripsikan hubungan antara organ pencernaan dengan kesehatan manusia.
- Tujuan Pembelajaran:
1) Siswa dapat mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia.
2) Siswa dapat mendeskripsikan hubungan antara organ pencernaan.

III. Kegiatan Pembelajaran
- Pembukaan
1) Guru membuka pelajaran dengan salam.
2) Do’a bersama.
3) Guru menunjuk salah satu siswa untuk maju ke depan kelas. Siswa tersebut kemudian diminta menyebutkan organ pencernaan yang diketahui.
4) Guru bertanya kepada siswa, ”Bagaimanakah proses makanan yang telah dimakan?”
5) Siswa diharapkan menjawab, ”Dari mulut kemudian diproses dalam lambung, setelah itu dikeluarkan oleh anus.”
6) Guru bertanya, ”Apa nama proses yang menyatakan demikian?”
7) Siswa diharapkan menjawab, ”Proses pencernaan.”
- Pengembangan
1) Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari siswa.
2) Guru membagikan materi kepada masing-masing kelompok.
3) Setiap kelompok akan mengamati organ pencernaan yang berbeda. Kelompok 1 mengamati mulut(cavum oris), kelompok 2 mengamati kerongkongan(Oesophagus), kelompok 3 mengamati lambung (ventriculus), kelompok 4 mengamati usus halus(intestinum tenue), kelompok 5 mengamati usus besar(intestinum crassum), dan kelompok 6 mengamati anus/lubang pelepasan.
4) Setelah melakukan pengamatan siswa melakukan diskusi kelompok.
5) Masing-masing kelompok menunjuk salah satu anggotanya untuk melakukan drama tentang cara kerja organ pencernaan.
6) Guru membimbing jalannya drama tersbut.
7) Guru memberikan penjelasan dan penguatan tentang materi yang sedang dibahas.
8) Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari.
- Penutup
1) Guru menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya.
2) Guru memberi tugas kepada siswa untuk mencari informasi tentang penyakit yang berhubungan tentang organ pencernaan melalui referensi buku atau internet dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya.
3) Guru menutup pelajaran dengan salam.
IV. Materi
Pengertin pencernaan manusia adalah:
• Merupakan proses perubahan atau pemecahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana dengan menggunakan enzyme dan organ-ogran pencernaan.
• Zat makanan yang dicerna akan diserap dalam bentuk yang lebih sederhana.
• Proses pencernaan makanan yang terjadi dalam tubuh dibantu dengan enzyme untuk mempercepat proses. Enzyme ini dihasilkan oleh organ–organ pencernaan dan jenisnya tergantung dari bahan makanan yang akan dicerna oleh tubuh.

Proses pencernaan makanan berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi :
1. Pencernaan fisik yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan alat atau organ pencernaan.
2. Pencernaan kimiawi yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan zat kimia berupa enzim.
3. Pencernaan biologis yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul komplaeks menjadi molekul sederhana dengan bantuan mikrorganisme dalam tubuh.
Macam pencernaan beradasarkan tempat terjadinya :
1. Pencernaan Intraseluler/intrasel yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan enzim di dalam sel organisme. Ex : pada Invertebrata seperti Amoeba sp, Paramaecium sp dll.
2. Pencernaan Ekstraseluler/ekstrasel yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan enzim yang ada di dalam saluran pencernaan. Setelah itu sari-sarinya akan diserap masuk dalam serap masuk dalam sel. Ex : pada Vertberata termasuk manusia.
Sistem pencernaan manusia dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu :
1. Tractus digestivus/saluran pencernaan yang terdiri dari alat/organ-organ pencernaan.
2. Glandula digestivus/kelenjar pencernaan yang terdiri dari enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar/organ pencernaan.

- Metode:
a) Simulasi
- Media:
a) Naskah drama.
b) Contoh format laporan pengamatan.

V. Evaluasi
Prosedur:
a) Teknik evaluasi:
1) Post test
2) Asesmen kinerja
3) Asesmen diskusi dan Presentasi
b) Alat evaluasi :
1) Soal-soal post test
2) Rubrik asesmen kinerja
3) Rubrik Asesmen diskusi dan presentasi







Asesmen Untuk Pengamatan
Hal yang diases Skor Keterangan
Keaktifan 1 Siswa tidak aktif dan tidak antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
2 Siswa tidak aktif tapi antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
3 Siswa aktif tapi tidak antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
4 Siswa aktif dan antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
Kecermatan mengamati 1 Siswa melakukan pengamatan dengan tidak teliti dan hasil pengamatan tidak lengkap.
2 Siswa melakukan pengamatan dengan tidak teliti tapi hasil pengamtan lengkap.
3 Siswa melakukan pengamatan dengan teliti tapi hasilpengamatan tidak lengkap.
4 Siswa melakukan pengamatan dengan teliti dan hasil pengamatan lengkap.

Asesmen Diskusi dan Presentasi Hasil Pengamatan
Hal yang diases Skor Keterangan
Keaktifan menjawab 1 Siswa menjawab 0 atau maksimal 1 pertanyaan saja, tapi kurang tepat dan kurang logis
2 Siswa menjawab 1 pertanyaan saja tapi tepat dan logis
3 Siswa menjawab 2-3 pertanyaan dengan tepat dan logis
4 Siswa menjawab minimal 4 pertanyaan dengan tepat dan logis
Bertanya 1 Siswa memberikan pertanyaan yang tidak membutuhkan penjelasan dan tidak berhubungan dengan materi diskusi
2 Siswa memberikan pertanyaan yang tidak membutuhkan penjelasan tapi berhubungan dengan materi diskusi
3 Siswa memberikan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan tapi tidak berhubungan dengan materi diskusi
4 Siswa memberikan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan dan berhubungan dengan materi diskusi
Memberi ide/gagasan 1 Siswa memberikan ide/gagasan yang tidak baru dan tidak ber-hubungan dengan materi diskusi.
2 Siswa memberikan ide/gagasan baru tapi tidak berhubungan dengan materi diskusi.
3 Siswa memberikan ide/gagasan yang tidak baru tapi berhubungan dengan materi diskusi.
4 Siswa memberikan ide/gagasan baru dan berhubungan dengan materi diskusi.
Menghargai pendapat teman 1 Siswa tidak menghargai pendapat orang lain
2 Siswa kurang menghargai pendapat orang lain
3 Siswa menghargai pendapat orang lain
4 Siswa sangat menghargai pendapat orang lain
Tabel Hasil Pengamatan
No Organ Hasil Pengamatan
1 a.
b.
c.
d.
e.
2 a.
b.
c.
d.
e.
3 a.
b.
c.
d.
e.

Kesimpulan:















SOAL POST TEST SUSTEM PENCERNAAN

1) Apakah yang dimaksud dengan sistem pencernaan?
2) Sebutkan organ-organ pencernaan pada tubuh manusia!
3) Sebutkan ciri-ciri dari masing-masing organ pencernaan!
4) Mengapa zat-zat sisa metabolisme harus dikeluarkan dari tubuh?
5) Sebutkan penyakit/kelainan yang berhubungan dengan sistem pencernaan pada manusia!










UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
November, 2009

Senin, 04 Januari 2010

teknologi pendidikan dan teknologi dalam pendidikan

TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Definisi Teknologi Pembelajaran Menurut Commission on Instruction Technology (CIT) 1970, “Teknologi Pendidikan merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar untuk suatu tujuan khusus, serta didasarkan pada penelitian tentang proses belajar dan komunikasi pada manusia yang menggunakan kombinasi sumber manusia dan manusia agar belajar dapat berlangsung efektif.”
Penjelasan mengenai definisi teknologi pembelajaran di sini lebih fokus kepada penciptaan alat perlu mengajar dan alat bantu mengajar.
Selanjutnya menurut Silber 1970,“Teknologi Pendidikan adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan-pasokan, pemanfaatan) komponen sistem pembelajaran (pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar) serta pengelolaan usaha pengembangan (organisasi dan personal) secara sistematik, dengan tujuan untuk memecahkan masalah belajar”. Berdasarkan difinisi Silber, ada dua hal yang dikembangkan yaitu strategi pembelajaran dan material atau alat bantu pembelajaran.
Selain Silber, MacKenzie dan Eraut 1971 berpendapat bahwa Teknologi Pendidikan merupakan pembelajaran sistematik mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai.” Menurutnya pembelajaran merupakan suatu proses yang memiliki langkah-langkah yang perlu dicapai secara teratur sehinggan suatu konsep mudah dipahami untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pada tahun 1972, AECT (Association for Educational Communications and Technology) mendefisikan bahwa Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang/ disiplin yang berkepentingan menfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam: identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut.
Kemudian pada tahun 1977, AECT mengemukakan Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia.
Dalam definisi ini, AECT berusaha mengidentifikasi sebagai suatu teori, bidang dan profesi. Definisi sebelumnya, kecuali pada tahun 1963, tidak menekankan teknologi pendidikan sebagai suatu teori.
Definisi AECT 1994 adalah, “Teknologi Pendidikan adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.”
Meski dirumuskan dalam kalimat yang lebih sederhana, definisi ini sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Definisi ini berupaya semakin memperkokoh teknologi pendidikan sebagai suatu bidang dan profesi, yang tentunya perlu didukung oleh landasan teori dan praktik yang kokoh. Definisi ini juga berusaha menyempurnakan wilayah atau kawasan bidang kegiatan dari teknologi pembelajaran. Di samping itu, definisi ini berusaha menekankan pentingnya proses disamping produk.
Perbedaan definisi 1977 dan 1994:
1. Proses evolusi teknologi pendidikan dari suatu pergerakan menjadi bidang garapan dan profesi, dimana th 1977 menekankan pada peran praktisi, lalu 1994 menekankan bidang teknologi pendidikan sebagai bidang garapan sekaligus terapan.
2. Pengembangan bidang garapan dilaksanakan melalui kajian teori serta penelitian.
3. Menurut definisi ini proses sama pentingnya dengan produk.
4. Definisi ini erat kaitannya dengan efektifitas dan efisiensi.
Pada rumusan AECT, 2004, teknologi pendidikan adalah studi dan praktik etik dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/ memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Tujuan utamanya jelas, dalam hal ini masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran agar efektif, efisien dan menarik dan untuk meningkatkan kinerja.
Jika kita cermati, perkembangan definisi-definisi teknologi pendidikan mengarah kepada sasaran yaitu belajar, sumber-sumber belajar, efisiensi dan dan efektifitas belajar, yang pada rumusan AECT 2004 memunculkan istilah kinerja. Jadi teknologi pendidikan berhubungan erat dengan teknologi kinerja yang definisinya akan dikaji pada bahasan berikut.
CONTOHNYA:
Teknologi pendidikan dapat menjadi sarana untuk mendorong terjadinya proses pendidikan multikultural yang berlangsung di Indonesia. Teknologi pendidikan dengan berbagai inovasinya akan dapat melayani pendidikan bagi semua (education for all), tanpa harus terganggu oleh perbedaan latar belakang budaya masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Untuk mendukung upaya pemerintah tersebut berbagai sistem pembelajaran inovatif telah dikembangkan sebagai bentuk penerapan konsep teknologi pendidikan, seperti SD PAMONG, SD Kecil, SMP Terbuka, Universitas Terbuka, dan Sistem Belajar Jarak Jauh (SBJJ). Hal ini karena pada umumnya teknologi pendidikan mempunyai potensi untuk melaksanakan pendidikan lebih luas, terutama dengan pemanfaatan media massa, dengan jalan penyajian informasi yang mampu menembus batas geografi, mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah, memberi kesempatan anak berkembang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang kehidupannya.

TEKNOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Berfungsi untuk mengoptimalkan proses dan pencapaian hasil yang diharapkan, dikembangkan berbagai strategi dengan memperhatikan perkembangan teknologi. Salah satu strategi yang dipilih adalah dengan memanfatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pembelajaran jarak jauh (distance learning) terutama di perguruan tinggi, pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Teknologi informasi dan komunikasi akan dimanfaatkan secara optimal dalam fungsinya sebagai media pembelajaran jarak jauh, dan juga untuk memfasilitasi manajemen pendidikan.
contohnya:
Untuk mengoptimalkan proses dan pencapaian hasil yang diharapkan, dikembangkan berbagai strategi dengan memperhatikan perkembangan teknologi. Salah satu strategi yang dipilih adalah dengan memanfatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pembelajaran jarak jauh (distance learning) terutama di perguruan tinggi, pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Teknologi informasi dan komunikasi akan dimanfaatkan secara optimal dalam fungsinya sebagai media pembelajaran jarak jauh, dan juga untuk memfasilitasi manajemen pendidikan.

RPP Simulasi

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
SIMULASI

I. Identitas
- Mata pelajaran : Biologi
- Pokok materi : Organ-Organ Pencernaan
- Kelas/sekolah : VIII SMP
- Semester : 1 (satu)
- Jam/waktu : 1 x 35 menit
- Pertemuan : 1

II. Tujuan
- Standard Kompetensi:
Memahami berbagai organ pencernaan dan sistem pecernaan dalam kehidupan manusia.
- Kompetensi Dasar:
Mendeskripsikan organ pencernaan dan sistem pencernaan pada manusia.
- Indikator
Siswa dapat :
1) Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia.
2) Mendeskripsikan hubungan antara organ pencernaan dengan kesehatan manusia.
- Tujuan Pembelajaran:
1) Siswa dapat mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia.
2) Siswa dapat mendeskripsikan hubungan antara organ pencernaan.

III. Kegiatan Pembelajaran
- Pembukaan
1) Guru membuka pelajaran dengan salam.
2) Do’a bersama.
3) Guru menunjuk salah satu siswa untuk maju ke depan kelas. Siswa tersebut kemudian diminta menyebutkan organ pencernaan yang diketahui.
4) Guru bertanya kepada siswa, ”Bagaimanakah proses makanan yang telah dimakan?”
5) Siswa diharapkan menjawab, ”Dari mulut kemudian diproses dalam lambung, setelah itu dikeluarkan oleh anus.”
6) Guru bertanya, ”Apa nama proses yang menyatakan demikian?”
7) Siswa diharapkan menjawab, ”Proses pencernaan.”
- Pengembangan
1) Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari siswa.
2) Guru membagikan materi kepada masing-masing kelompok.
3) Setiap kelompok akan mengamati organ pencernaan yang berbeda. Kelompok 1 mengamati mulut(cavum oris), kelompok 2 mengamati kerongkongan(Oesophagus), kelompok 3 mengamati lambung (ventriculus), kelompok 4 mengamati usus halus(intestinum tenue), kelompok 5 mengamati usus besar(intestinum crassum), dan kelompok 6 mengamati anus/lubang pelepasan.
4) Setelah melakukan pengamatan siswa melakukan diskusi kelompok.
5) Masing-masing kelompok menunjuk salah satu anggotanya untuk melakukan drama tentang cara kerja organ pencernaan.
6) Guru membimbing jalannya drama tersbut.
7) Guru memberikan penjelasan dan penguatan tentang materi yang sedang dibahas.
8) Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari.
- Penutup
1) Guru menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya.
2) Guru memberi tugas kepada siswa untuk mencari informasi tentang penyakit yang berhubungan tentang organ pencernaan melalui referensi buku atau internet dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya.
3) Guru menutup pelajaran dengan salam.
IV. Materi
Pengertin pencernaan manusia adalah:
• Merupakan proses perubahan atau pemecahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana dengan menggunakan enzyme dan organ-ogran pencernaan.
• Zat makanan yang dicerna akan diserap dalam bentuk yang lebih sederhana.
• Proses pencernaan makanan yang terjadi dalam tubuh dibantu dengan enzyme untuk mempercepat proses. Enzyme ini dihasilkan oleh organ–organ pencernaan dan jenisnya tergantung dari bahan makanan yang akan dicerna oleh tubuh.

Proses pencernaan makanan berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi :
1. Pencernaan fisik yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan alat atau organ pencernaan.
2. Pencernaan kimiawi yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan zat kimia berupa enzim.
3. Pencernaan biologis yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul komplaeks menjadi molekul sederhana dengan bantuan mikrorganisme dalam tubuh.
Macam pencernaan beradasarkan tempat terjadinya :
1. Pencernaan Intraseluler/intrasel yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan enzim di dalam sel organisme. Ex : pada Invertebrata seperti Amoeba sp, Paramaecium sp dll.
2. Pencernaan Ekstraseluler/ekstrasel yaitu proses perubahan zat makanan dari molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan bantuan enzim yang ada di dalam saluran pencernaan. Setelah itu sari-sarinya akan diserap masuk dalam serap masuk dalam sel. Ex : pada Vertberata termasuk manusia.
Sistem pencernaan manusia dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu :
1. Tractus digestivus/saluran pencernaan yang terdiri dari alat/organ-organ pencernaan.
2. Glandula digestivus/kelenjar pencernaan yang terdiri dari enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar/organ pencernaan.

- Metode:
a) Simulasi
- Media:
a) Naskah drama.
b) Contoh format laporan pengamatan.

V. Evaluasi
Prosedur:
a) Teknik evaluasi:
1) Post test
2) Asesmen kinerja
3) Asesmen diskusi dan Presentasi
b) Alat evaluasi :
1) Soal-soal post test
2) Rubrik asesmen kinerja
3) Rubrik Asesmen diskusi dan presentasi







Asesmen Untuk Pengamatan
Hal yang diases Skor Keterangan
Keaktifan 1 Siswa tidak aktif dan tidak antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
2 Siswa tidak aktif tapi antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
3 Siswa aktif tapi tidak antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
4 Siswa aktif dan antusias dalam melaksanakan kegiatan pengamatan
Kecermatan mengamati 1 Siswa melakukan pengamatan dengan tidak teliti dan hasil pengamatan tidak lengkap.
2 Siswa melakukan pengamatan dengan tidak teliti tapi hasil pengamtan lengkap.
3 Siswa melakukan pengamatan dengan teliti tapi hasilpengamatan tidak lengkap.
4 Siswa melakukan pengamatan dengan teliti dan hasil pengamatan lengkap.

Asesmen Diskusi dan Presentasi Hasil Pengamatan
Hal yang diases Skor Keterangan
Keaktifan menjawab 1 Siswa menjawab 0 atau maksimal 1 pertanyaan saja, tapi kurang tepat dan kurang logis
2 Siswa menjawab 1 pertanyaan saja tapi tepat dan logis
3 Siswa menjawab 2-3 pertanyaan dengan tepat dan logis
4 Siswa menjawab minimal 4 pertanyaan dengan tepat dan logis
Bertanya 1 Siswa memberikan pertanyaan yang tidak membutuhkan penjelasan dan tidak berhubungan dengan materi diskusi
2 Siswa memberikan pertanyaan yang tidak membutuhkan penjelasan tapi berhubungan dengan materi diskusi
3 Siswa memberikan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan tapi tidak berhubungan dengan materi diskusi
4 Siswa memberikan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan dan berhubungan dengan materi diskusi
Memberi ide/gagasan 1 Siswa memberikan ide/gagasan yang tidak baru dan tidak ber-hubungan dengan materi diskusi.
2 Siswa memberikan ide/gagasan baru tapi tidak berhubungan dengan materi diskusi.
3 Siswa memberikan ide/gagasan yang tidak baru tapi berhubungan dengan materi diskusi.
4 Siswa memberikan ide/gagasan baru dan berhubungan dengan materi diskusi.
Menghargai pendapat teman 1 Siswa tidak menghargai pendapat orang lain
2 Siswa kurang menghargai pendapat orang lain
3 Siswa menghargai pendapat orang lain
4 Siswa sangat menghargai pendapat orang lain
Tabel Hasil Pengamatan
No Organ Hasil Pengamatan
1 a.
b.
c.
d.
e.
2 a.
b.
c.
d.
e.
3 a.
b.
c.
d.
e.

Kesimpulan:















SOAL POST TEST SUSTEM PENCERNAAN

1) Apakah yang dimaksud dengan sistem pencernaan?
2) Sebutkan organ-organ pencernaan pada tubuh manusia!
3) Sebutkan ciri-ciri dari masing-masing organ pencernaan!
4) Mengapa zat-zat sisa metabolisme harus dikeluarkan dari tubuh?
5) Sebutkan penyakit/kelainan yang berhubungan dengan sistem pencernaan pada manusia!



NASKAH SIMULASI

Di suatu pagi yang cerah, diatas meja makan terhidang roti lengkap dengan selainya dan segelas susu hangat yang menggugah selera. Ibu telah menyiapkan sarapan spesial buat Jhoni untuk menghadapi kegiatannya yang padat di sekolah hari ini. Tak sabar Jhoni langsung membuka mulutnya lebar-lebar hendak menyantap roti kesukaannya. Mari kita lihat, terdapat apa sajakah di mulut Jhoni dan bagaimanakah nasib roti yang malang itu di dalam mulut Jhoni.
(pemeran mulut langsung maju ke depan kelas dan memainkan perannya sebagai mulut).
Mulut : “Nyam…nyam…Hai..aku mulut, bentukku adalah rongga yang didalamnya terdapat gigi-gigi yang tugasnya memotong, mencabik, dan menghaluskan makanan yang masuk. Dibagian bawahku terdapat lidah yang fungsinya untuk mengaduk makanan, membantu menelan makanan, dan untuk merasakan makanan. Di dalam tubuhku juga terdapat kelenjar ludah yang dapat mengeluarkan cairan, fungsi cairan itu untuk mempermudah menelan dan mencerna makanan, melindungi selaput di tubuhku, dan mencerna makanan secara kimiawi. Tahukah kalian apa yang terjadi jika makanan masuk ke tubuhku, makanan akan aku lumatkan sampai halus dan akan aku telan”.

Setelah roti yang malang itu dilumatkan dimulut Jhoni, roti yang sudah tidak berbentuk itu langsung masuk ke dalam kerongkongan. (pemeran kerongkongan langsung maju ke depan kelas dan memainkan perannya sebagai kerongkongan).

Kerongkongan : “Halo…aku kerongkongan bentuk tubuhku panjang, ramping dan berotot. Kalau ada makanan masuk ke tubuhku langsung akan aku remas-remas dengan otot-ototku, sampai lembut sehingga berbentuk bolus. Ha...ha..ha.”

Roti yang kini sudah berbentuk bulat-bulat atau bolus kemudian akan masuk ke dalam lambung. Aduhai malang sekali nasibmu roti. (pemeran lambung langsung maju ke depan kelas dan memainkan perannya sebagai lambung).

Lambung : Hai..choy, nih aku lambung aku berbentuk kantung besar yang berotot. Tubuhku dibagi menjadi 3 bagian yaitu cardiac, fundus, dan pylorus. Aku sangat kejam terhadap makanan, makanan yang masuk akan aku hancurkan sampai menjadi bubur dan bakteri-bakterinya akan aku musnahkan semuanya dengan cairanku yang aku sebut dengan HCl”.

Setelah lambung dengan beringas melumat roti menjadi bubur, menjadi partikel-partikel kecil, maka partikel-partikel roti akan masuk ke dalam usus halus (pemeran usus halus langsung maju ke depan kelas dan memainkan perannya sebagai usus halus).

Usus halus : “Bro…aku usus halus, tubuhku panjang sekali dan taukah kalian dinding-dinding tubuhku ini penuh dengan jonjot-jonjot dan mengeluarkan getah-getah yang banyak sekali. Tubuhku ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu Duodenum, Jejunum, dan Ileum. Apabila makanan masuk ketubuhku maka dengan bantuan getahku aku akan memecahnya menjadi sari-sari makanan, kemudian sari-sari makanan itu akan aku serap kembali”.

Makanan yang malang, yang sudah kehilangan bentuknya kini juga kehilangan sari-sarinya pula. Makanan yang kini hanya berupa sisa-sisa masuk kedalam usus besar. (pemeran usus besar langsung maju ke depan kelas dan memainkan perannya sebagai usus besar).

Usus besar : “Kenalkan, aku si Usus besar. Bentuk tubuhku panjang tapi agak gendut juga. Aku punya ekor lho yang bisa bergeol-geol namanya “Apendiks”. Apabila sisa makanan sudah masuk ke dalam tubuhku maka sisa makanan itu kan kutambah air apabila kekurangan air, dan akan aku ambil airnya jika kelebihan air. Disini aku tidak kesepian lho karena aku punya temen yang selalu setia menemaniku namanya E.coli yang tugasnya membusukkan makanan.

Setelah mengalami perjalanan panjang, makanan yang kini sudah berbentuk feses. (pemeran anus langsung maju ke depan kelas dan memainkan perannya sebagai anus).

Anus: “ he he he…”
Sebenarnya aku malu mau memperkenalkan siapa namaku,,tapi apa boleh buat. sssstttttt,,,,namaku “Anus”. Bentukku jelek banget dan kalian pasti tau kan bentukku seperti apa. Feses yang masuk ke tubuhku akan aku keluarkan segera.

Demikianlah akhir dari perjalanan roti jhoni yang malang, awalnya bentuknya sangat memikat dan menggugah selera. Kini setelah melalui perjalanan panjang dalam perut Jhoni dia telah kehilangan bentuknya yang rupawan, menjadi feses yang buruk rupa.

Minggu, 09 Agustus 2009

PEMBELAJARAN PAKEM

MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN MONOPOLY

Moh. Saifudin Zuhri

108121409920

Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan

Teknologi Pendidikan

ABSTRAK

Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bersifat normatif. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.

Kata kunci: belajar mengajar, PAKEM

PENDAHULUAN

Dalam interaksi pembelajaran unsur guru dan siswa harus aktif, karena tidak mungkin terjadi proses interaksi bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam sikap, mental, dan perbuatan. Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses, siswa harus lebih aktif daripada guru. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing. Menurut Abu Achmadi dan Shuyadi, 1985:47), interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

Aktif tidaknya siswa dalam belajar tentunya diawali dengan timbulnya rasa ketertarikan dan minat siswa itu sendiri dalam mengikuti pelajaran,
Ketercapaian tujuan dalam proses belajar mengajar adalah bukan dilihat dari terpenuhinya target materi yang harus diberikan, melainkan pada seberapa besar anak merasa tertarik untuk mengetahui dan memahami dari materi tersebut, untuk itu diperlukan suatu startegi pembelajaran yang efektif melalui Pendekatan, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). Dengan demikian siswa menjadi orientasi pengembangan kompetensi.

Tidak hanya pendidikan tapi juga peran orangtua disini juga sangat penting, hal ini karena orangtua juga harus mengerti keunikan yang dimiliki oleh anaknya. Untuk membantu anak, orang tua harus mampu menelusuri bakat dan minatnya, mendorong, menghargai, dan menanamkan kepercayaan diri si anak.

Permainan MONOPOLY untuk membantu belajar anak

Bermaian adalah kegiatan yang sangat disukai oleh anak-anak. Anak-anak disini hanya berfikir untuk mendapatkan kesenangan saja tanpa mem-pertimbangkan hasil akhir. Ada orangtua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain, maka anak tersebut akan malas bekerja dan bodoh. Ternyata, pendapat ini kurang tepat dan kurang bijaksana. Ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Pengaruh bermain bagi perkembangan anak :

- Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak.

- Bermain dapat digunakan sebagai terapi.

- Bermain dapat mempengaruhi dan menambah pengetahuan anak.

- Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak.

- Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak.

- Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak.

Misalnya dengan permainan “Monopoli”. Monopoli adalah satu permainan papan yang paling laris jualannya di dunia. Dalam permainan ini, pemain berlomba untuk mengumpulkan kekayaan melalui satu perlaksanaan satu sistem ekonomi mainan yang melibatkan pembelian, penyewaan dan pertukaran tanah dengan menggunakan uang mainan. Pemain mengambil giliran untuk melemparkan dadu dan bergerak di sekeliling papan permainan mengikut bilangan yang diperoleh dengan lemparan dadu tersebut.

Model permainan monopoli PAKEM pada dasarnya sama dengan bentuk permainan monopoli biasa yaitu untuk menguasai. Menguasai pada permainan monopli PAKEM adalah bukan hanya menguasai kekayaan saja seperti pada permainan monopoli biasa tetapi menguasai pengetahuan. Bentuk dari model permainan monopoli PAKEM adalah memasukan petak pertanyaan yang akan dijawab oleh peserta permainan. Adapun kelengkapan dari permainan monopoli PAKEM adalah ;

- Papan permainan

- Uang-uangan

- Lembar pertanyaan

- Lembar hasil permainan (Pengamatan).

SIMPULAN

Pada dasarnya Dalam interaksi pembelajaran unsur guru dan siswa harus aktif, karena tidak mungkin terjadi proses interaksi bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam sikap, mental, dan perbuatan.

Untuk hasil pembelajaran yang maksimal, bukan dilihat dari terpenuhinya target materi yang harus diberikan, melainkan pada seberapa besar anak merasa tertarik untuk mengetahui dan memahami dari materi tersebut. Selain itu, peran orang tua juga sangat penting untuk membantu pencapaian hasil pembelajaran yang maksimal. Ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Misalnya, Bermain mem-pengaruhi perkembangan fisik anak, bermain dapat digunakan sebagai terapi bermain dapat mempengaruhi dan menambah pengetahuan anak.

REFERENSI

Djamarah, Bahri, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif,
Jakarta : PT Rineka Cipta.

Ramadhan, A. Tirmizi. 2008. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan menyenangkan. Artikel, (online). Diakses 13 April 2009.

Jumat, 22 Mei 2009

artikel

PERMAINAN UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIVITAS

Moh. Saifudin Zuhri

108121409920

Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan

Teknologi Pendidikan

ABSTRAK

Pada dasarnya setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda dengan anak yang lain. Seperti hal yang lain, kreativitas perlu diberi kesempatan dan rangsangan untu dikembangkan. Mengembangan kreativitas dapat dilakukan dengan permainan.

Kata kunci: kreativitas, permainan.

PENDAHULUAN

Utami Munandar (1999) menguraikan definisi tentang kreativitas berdasarkan empat P, pertama pribadi (person), bahwa setiap anak adalah pribadi unik dan kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan pribadi individu. Kedua proses (process), kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau untuk menemukan hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya dalam mencari jawaban baru terhadap suatu masalah, merupakan manifestasi dari kelancaran, fleksibilitas dan orisinalitas pemikiran anak. Ketiga pendorong (press), kreativitas dapat berkembang jika ada “press” atau pendorong, baik dari dalam (dorongan internal, keinginan, motivasi atau hasrat yang kuat dari diri sendiri) untuk berkreasi, maupun dari luar, yaitu lingkungan yang memupuk dan mendorong pikiran, perasaan, sikap dan perilaku anak yang kreatif dengan memberikan peluang kepada anak untuk bersibuk diri secara kreatif. Keempat produk (product), bahwa produk-produk kreativitas yang konstruktif pasti akan muncul, karena produk kreativitas muncul dari proses interaksi dari keunikan individu di satu pihak dan bahan, kejadian, orang-orang atau keadaan hidupnya (faktor lingkungan dilain pihak).

Perkembangan kreativitas sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitif seseorang, karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. Dalam era global seperti ini, diperlukan anak-anak penerus bangsa yang kreatif. Oleh karena itu kreativitas perlu dikembangkan sejak usia dini. Mengapa sejak usia dini perlu mengembangkan kreativitas? Karena pada masa anak-anak adalah masa dimana kreativitas lebih cepat berkembang. Pada saat inilah kesempatan yang baik untuk mengmbangkan kreativitas. Setiap anak pada dasarnya memiliki kemampuan kreativitas masing-masing. Ada tiga ciri dominan yang dimiliki seorang anak kreatif. Yaitu spontan, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan tertarik pada hal-hal baru.

Perkembangan anak pada dasarnya tidak sama, hal ini terrgantung dari berbagai faktor seperti gizi, kesehatan pola pengasuhan, dan yang sangat penting adalah faktor lingkungan. Dalam mengembangkan kreativitas anak, bisa dengan cara menyekolahkan mereka. Bahkan dengan permaiananpun bisa mengem-bangkan kreativitas anak.

Peran orang tua disini juga sangat penting. Misalnya orang tua harus mengerti keunikan yang dimiliki anak-anak mereka bahkan orang tua hendaknya menerima kekurangan anaknya. Untuk mengembangkan kreativitas anak, orang tua harus mampu menelusuri bakat dan minatnya, mendorong, menghargai, dan menanamkan kepercayaan diri, sekaligus terlibat dalam proses kreativitas si anak.

Permainan media mengembangkan kreativitas

Dunia anak identik dengan bermain, sesungguuhnya memudahkan memupuk unsur-unsur kreativitas tersebut. Rasa ingin tahuya akan terangsang, begitu juga dengan daya khayal atau imajinasi dan keberaniannya untuk mencoba hal-hal yang baru. Melalui permainan juga, tingkat kreativitas anak akan dipacu melalui daya khayalnya. Ini akan membuatnya mampu melihat gambaran dan wawasan baru. Oleh karena itu, orangtua harus ikut langsung dalam permainan si anak tersebut.

Apabila orangtua menyambunyikan hal-hal baru (tidak ada keterbukaan antara orangtua dengan anak) maka hal ini akan menghambat kreativitas si anak, begitu juga apabila si orangtua berkomunikasi dengan nada keras dan dalam suasana tegang. Tidak hanya itu, apabila orangtua lebih cenderung menilai dan menghargai hasil daripada proses kreasinya, pernytaan atau perspektif ini akan menghilangkan kreativitas si anak.

Misalnya dengan permainan yang bersifat aktif, yaitu bermain bebas dan spontan atau eksplorasi. Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru. Contohnya permainan yang membantu mengembangkan kreativitas anak itu adalah permainan “PUZZLE”. Dengan menggunakan puzzle anak-anak akan mencoba merangkai dan membentuk suatu yang baru sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Tidak hanya dilingkungan keluarga saja kreativitas dapat di kembangkan, tetapi sistem pendidikanpun mempengaruhi perkambangan kreativitas anak. Hampir sebagian besar sekolah menerapkan sistem pendidikan satu arah, mengutamakan IQ (kecerdasan intelektual), membatasi ruang gerak, dan memiliki hubungan antara guru dengan murid yang kaku.

Sistem pendidikan seperti diatas hanya akan membuat kreativitas dan kecerdasan emosional (EQ) anak-anak menjadi terabaikan. Untuk memacu dan meningkatkan kreativitas anak bisa melakukan langkah-langkah seperti berikut ini:

1. Memberikan anak ruang serta kebebasan bemain dan bereksplorasi.

2. Membiarkan anak memilih sendiri media permainannya dan jangan terlalu diatur.

3. Membiarkan anak merasa tenang, nyaman, dan menikmati proses kreativitasnya.

4. Memlih secara bijak apa yang benar-benar diperlukan dan dibutuhkan anak.

5. Menciptakan lingkungan yang terbuka dan menerima anak apa adanya.

6. Mendukung pertumbuhan kreativitas anak dengan memberikan nutrisi tepat yang sesuai dengan perkembengannya. Karena kekurangan atau kelebihan gizi akan menghambat proses kreativitas anak.

Dengan kata lain sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak hanya mementingkan tentang IQ ( kecerdasan intelektual) saja, tetapi sekolah yang baik adalah sekolah yang mementingkan aspek IQ ( kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional), dan dapat mengembangkan kreativitas anak dengan maksimal.

SIMPULAN

Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnya berbeda-beda. Kreativitas, seperti halnya setiap potensi lain, perlu diberi kesempatan dan rangsang oleh lingkungan untuk berkembang.

Untuk membantu mengembangakan kreativitas si anak, Misalnya orang tua harus mengerti keunikan yang dimiliki anak-anak mereka bahkan orang tua hendaknya menerima kekurangan anaknya. Untuk mengembangkan kreativitas anak, orang tua harus mampu menelusuri bakat dan minatnya, mendorong, menghargai, dan menanamkan kepercayaan diri, sekaligus terlibat dalam proses kreativitas si anak. Misalnya dengan media permainan.

REFERENSI

Munandar, Utami, 1999. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PT Penerbit: Rineka Cipta.

Rahmi, 2008. Merangsang Kreativitas Si Kecil. Artikel, (online). Diakses 31 Maret 2009.